About Me
Hi! Saya Ryan Rudiansyah seorang freelance web developer dari Bandung yang juga senang dengan dunia motivasi dan technopreneurship. Semoga tulisan di blog ini bisa memberikan inspirasi bermanfaat. ツ

sempatkan…walau sebentar

..Assalamu’alaikum,,

Salam hangat selalu sobat, smoga smakin semangat setiap harinya, dan selalu berbagi manfaat kebaikan dimana pun kita berada, insya Allah…

Kesibukan kadang melupakan kita dari kehidupan kita dalam keluarga, seorang ayah sibuk dengan pekerjaan kantornya, seorang ibu sibuk dengan aktivitas wanita karirnya, sehingga melupakan seorang anak yang masih membutuhkan belaian kasih sayang kedua orang tuanya…

Minggu pagi si aku mendapat sebuah kiriman sebuah kisah dari seorang teman, sebuah cerita yang sanggup membuat mata ini menahan air mata, membuat hati ini menangis (jiahahaha…lebay :mrgreen:). Dan kini ingin ku berbagi cerita itu disini, mungkin dari sobat sekalian sudah pernah ada yang membaca kisah ini sebelumnya, tapi tak apalah, semoga kembali mengingatkan…

Selamat membaca….

“Bacanya Yang Keras Ya Pa..”

Semuanya itu disadari John pada saat dia termenung seorang diri, menatap kosong keluar jendela rumahnya. Dengan susah payah ia mencoba untuk memikirkan mengenai pekerjaannya yang menumpuk. Semuanya sia-sia belaka.

Yang ada dalam pikirannya hanyalah perkataan anaknya Magy di suatu sore sekitar 3 minggu yang lalu. Malam itu, 3 minggu yang lalu John membawa pekerjaannya pulang. Ada rapat umum yang sangat penting besok pagi dengan para pemegang saham.

Pada saat John memeriksa pekerjaannya, Magy putrinya yang baru berusia 4 tahun datang menghampiri, sambil membawa buku ceritanya yang masih baru. Buku baru bersampul hijau dengan gambar peri. Dia berkata dengan suara manjanya, “Papa lihat!” John menengok kearahnya dan berkata, “Wah, buku baru ya?” “Ya Papa!” katanya berseri-seri, “Bacain dong!” “Wah, Ayah sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh”, kata John dengan cepat sambil mengalihkan perhatiannya pada tumpukan kertas di depan hidungnya.

Magy hanya berdiri terpaku disamping John sambil memperhatikan. Lalu dengan suaranya yang lembut dan sedikit dibuat-buat mulai merayu kembali “Tapi mama bilang Papa akan membacakannya untuk Magy”. Dengan perasaan agak kesal John menjawab: “Magy dengar, Papa sangat sibuk. Minta saja Mama untuk membacakannya”. “Tapi Mama lebih sibuk daripada Papa” katanya sendu. “Lihat Papa, gambarnya bagus dan lucu.” “Lain kali Magy, sana! Papa sedang banyak kerjaan.”

John berusaha untuk tidak memperhatikan Magy lagi. Waktu berlalu, Magy masih berdiri kaku disebelah Ayahnya sambil memegang erat bukunya. Lama sekali John mengacuhkan anaknya. Tiba-tiba Magy mulai lagi “Tapi Papa, gambarnya bagus sekali dan ceritanya pasti bagus! Papa pasti akan suka”. “Magy, sekali lagi Ayah bilang: Lain kali!” dengan agak keras John membentak anaknya.

Hampir menangis Magy mulai menjauh, “Iya deh, lain kali ya Papa, lain kali”. Tapi Magy kemudian mendekati Ayahnya sambil menyentuh lembut tangannya, menaruh bukunya dipangkuan sang Ayah sambil berkata “Kapan saja Papa ada waktu ya, Papa tidak usah baca untuk Magy, baca saja untuk Papa. Tapi kalau Papa bisa, bacanya yang keras ya, supaya Magy juga bisa ikut dengar”.

John hanya diam. Kejadian 3 minggu yang lalu itulah sekarang yang ada dalam pikiran John. John teringat akan Magy yang dengan penuh pengertian mengalah. Magy yang baru berusia 4 tahun meletakkan tangannya yang mungil diatas tangannya yang kasar mengatakan: “Tapi kalau bisa bacanya yang keras ya Pa, supaya Magy bisa ikut dengar”. Dan karena itulah John mulai membuka buku cerita yang diambilnya, dari tumpukan mainan Magy di pojok ruangan.

Bukunya sudah tidak terlalu baru, sampulnya sudah mulai usang dan koyak. John mulai membuka halaman pertama dan dengan suara parau mulai membacanya. John sudah melupakan pekerjaannya yang dulunya amat sangat penting. Ia bahkan lupa akan kemarahan dan kebenciannya terhadap pemuda mabuk yang dengan kencangnya menghantam tubuh putrinya di jalan depan rumah. John terus membaca halaman demi halaman sekeras mungkin, cukup keras bagi Magy untuk dapat mendengar dari tempat peristirahatannya yang terakhir. Mungkin…

Begitu berharganya sebuah kepedulian, sempatkan…walau sebentar, ya sebentar itu pun akan sangat berharga bagi seseorang yang sedang memerlukannya.

Semoga cerita ini kembali membuka hati kita bahwa kita tidak hidup sendiri, ada seseorang yang membutuhkan kita, setidaknya sebuah ucapan salam, atau bahkan membacakan sebuah cerita….

LAKUKAN SESUATU SEBELUM ANDA TERLAMBAT UNTUK MENYADARINYA, BERIKANLAH KEBAHAGIAAN BAGI MEREKA YANG ANDA CINTAI. SEMPATKAN….WALAU SEBENTAR,,,

*kutipan di ambil disini

-yanrmhd-

Share
kangian

kangian

Web Designer, Front End Developer di DigitalBrand Web Solution (Whatsapp 089626005975 )

You may also like...

54 Responses

  1. kangian Mbah Jiwo berkata:

    pertamax ye…

  2. kangian Mbah Jiwo berkata:

    pagi2 sudah dapat motivasi…weleh2…

  3. kangian Mbah Jiwo berkata:

    salam hangat dari MALANG yg duingin nyes nyes

  4. kangian didot berkata:

    sempatkan sholat walau sesibuk apapun,berhentilah untuk mengingatNYA,dimanapun kapanpun,saat kita berdiri,saat duduk dan saat berbaring.

    zikir selalu dalam hati saat,semoga Allah pun ingat kepada kita karena kita juga selalu berusaha mengingatNYA 🙂

    makasih atas cerita yg mengharukan ini mas yan 😀

    • kangian yanrmhd berkata:

      wah yang itu mah harus dong mas didot,, :mrgreen:
      dzikir kapanpun dan dimana pun semoga selalu membawa kita pada kebaikan…

      semoga ada manfaatnya,, 😀

  5. kangian hanyanulis berkata:

    …Saat yang tepat untuk menghargai sesuatu adalah pada saat kita masih memilikinya, bukan ketika kita telah kehilangannya… 🙂

    • kangian yanrmhd berkata:

      yup, tepat sekali…
      karena penyesalan itu tiada guna, maka sempatkan…walau sebentar, karena waktu itu tak akan terulang kembali,,
      🙂

  6. kangian wiwikbasuki berkata:

    hiks…nangis…! Emak-emak kl sdh ketemu tokoh bocah, melaz, pasti… 🙁

  7. kangian tary Sonora berkata:

    semoha mata hati kita akan selalu bisa melihat dan merasakan apa yg kita lihat, hingga hati kita terketuk untuk saling memberi dan menghargai.

  8. kangian yuniarinukti berkata:

    Hmm… cerita yang mengharukan! rasanya ikut menyesal sekali… mengapa waktu itu si Magy ga datang kerumahku pasti aku akan bacakan….

  9. kangian Usup Supriyadi berkata:

    😥
    sedih rasanya sekarang ini, banyak amanah yang tak diperhatikan oleh para orang tua, sangking sibuknya kadang mereka menyerahkan amanah-Nya pada pengasuh anak, bahkan dititipkan ditempat penitipan anak. sungguh, mereka pikir barang kali ya . semoga kelak saya tidak menjadi orang tua macam itu!

    nice post

    • kangian yanrmhd berkata:

      betul Kang Usup,,
      padahal anak adalah titipan, dan akan diminta pertanggungjawabannya kelak…
      amiiin,,begitu pun saya Kang.. :mrgreen:

  10. inspiratif nan menggugah, trims 🙂

  11. kangian tetik berkata:

    Terima kasih tulisannya menggugah sekali

    semoga akan selalu teringat jika kelak berkeluarga, ataupun sekarang sih ya dengan sedikit banyak memperhatika orang lain dari pada kesibukan sendiri..

  12. Selalu saja, rindu akan datang saat kita jauh dari orang-orang yang kita sayangi… dan kita akan “merasa” memiliki setelah kehilangan….
    Cerita serupa memang sering saya alami sendiri, dan biasanya malam harinya – saat melihat si buah hati terlelap, perasaan menyesal akan meraja…. lantas penebusnya adalah sebuah kecupan sayang di pipi atau di kening….

  13. kangian Danu Akbar berkata:

    wa’alaikum salam…
    wah.. kata2nya puitis banget 😀

  14. kangian setitikharapan berkata:

    Terkadang kita baru merasakan kehilangan ketika dia memang benar-benar telah tiada. Sekeras apapun kita memanggil dan menyebutnya dia tak akan kembali. Semoga kisah ini menjadi iktibar bagi kita semua.

    • kangian yanrmhd berkata:

      betul Mas Edy,,
      maka sebaiknya kita sempatkan…walau sebentar, untuk mau mendengarkan bahkan berbuat, agar ketika kita kehilangan kita tidak memiliki beban terlalu berat 🙂

  15. kangian orchidlily berkata:

    Heran deh,,kok lagi2 saya ketonjok dengan postingan Kang Ryan. Saking sok sibuknya, saya sering melupakan orang-orang sekitar saya…bahkan untuk menyapa dan menanyakan kabar saja seakan tak ada waktu..Padahal saya menjadi seperti ini karena mereka. InsyaALLAH mulai saat ini saya akan belajar peduli. Terimakasih kang telah mengingatkan.
    Kunjungan ke blog ini juga merupakan bentuk kepedulian kan? 😀

  16. kangian ceuceu berkata:

    yang saya sesalkan… kemana ibunya magie ? hingga hari ini saya percaya bahwa kodrat manusia, laki-laki dan perempuan sudah diatur sedemikian rupa, bahwa laki2 harus bekerja mencari nafkah dan perempuan lebih bertanggung jawab pada urusan rumah dan anak2.. memang, nilai2 itu kini sudah agak bergeser namun urusan anak harusnya tetap nomor satu. pada cerita itu, saya tidak mengangkat masalah tentang ‘sempat dan tak sempat’ tapi bagaimana tanggung jawab seorang perempuan yg secara kodratnya ia hadir untuk menemani anak2…

    jika itu terjadi pada kehidupan nyata.. alangkah ironisnya….

    • kangian yanrmhd berkata:

      wah, sebuah analisa yang lebih mendalam maka sampai pada ibunya Magy.. :mrgreen:

      betul sekali Ceu’,, secara kodrati laki2 emang diberi tanggung jawab dalam nafkah, dan perempuan dlm urusan rumah & anak…tp tampaknya tata nilai telah berganti, sehingga anak yg jadi korban 🙁

      bukan ironis Ceu’,, tapi bahaya…jgn salahkan anak kalau tumbuh jd org ‘kasar’ dan selalu antipati krn tdk mendapat kasih sayang ibu, atau kejadian kayak Magy…wallahu’alam,,

  17. kangian cempaka berkata:

    Hiks terharu,,,,,,, huaaa *cryingg****

    adek Maggy.. sini sini cempaka bacain (

  18. kangian delia4ever berkata:

    Pernah baca cerita ini .. hikss hikss
    waktu tidak akan pernah kembali jadi buatlah apa yang bisa karena penyesalan selalu terlambat 🙁

    trims

  19. kangian Asop berkata:

    Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari… 😐

  20. kangian Abdi Jaya berkata:

    tanggung jawab terhadap anak lebih penting ketimbang pekerjaan…

    sangat bermanfaat bang…

  21. kangian bundadontworry berkata:

    yang sering dirasakan adalah penyesalan ketika kita telah kehilangan, pdhal sewaktu msh ada tdk pernah dihargai keberadaannya.
    salam

  22. kangian wiwikbasuki berkata:

    Aku termasuk lho yg suka ngeles-ngeles kl disuruh crita-crita he..he… 🙂

  23. kangian aldy berkata:

    Penyesalan selalu datang belakangan ketika semuanya sudah terjadi. Tetapi ketika ada kesempatan untuk memperbakinya, saatnya untuk membalas kesalahan dengan kebenaran.

  24. kangian sunflo berkata:

    ya ryan… sempatkan meski sebentar sebelum perpisahan itu datang menjelang.. 🙁

  25. kangian rose berkata:

    menyentuh sekali ceritanya, yan… 🙁
    seringnya penyesalan itu datang terakhir setelah semuanya usai…

  26. kangian Ifan Jayadi berkata:

    Sedih sekali. Kepala keluarga itu terkoyak hatinya ketika disadarkan suatu peristiwa yang merenggut buah hatinya. Kini tidak ada artinya lagi segenap prestius yang ia raih selama ini. Semuanya hampa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *